Setelah berabad-abad lamanya terbelenggu dalam jeratan
penjajah, tepatnya pada tangggal 17 Agustus 1945 Indonesia untuk pertama
kalinya memekikkan suara kemerdekaan yang menggema ke seluruh penjuru negeri.
Setelah melalui perjuangan yang cukup melelahkan serta pengorbanan yang menelan
nyawa yang tak terhitung jumlahnya sampai saat ini. Sekitar 64 tahun sudah pekikan
kemerdekan itu berlalu, namun apa yang ada dan kita saksikan sekarang masih
jauh dari harapan para pendahulu kita.
Kita semua menyadari bahwa sumbangsih pejuang terhadap kemerdekaan sangatlah
besar. Mereka rela mengorbankan nyawa demi sebuah kemerdekaan bangsa. Lantas,
bagaimana dengan sekarang ? Kemerdekaan yang mestinya kita isi dengan
pembangunan di segala bidang, malah melahirkan banyak koruptor yang tidak hanya
membobol milyaran uang negara, bahkan triliunan. Belum lagi penyakit masyarakat
yang sulit di berantas, seperti praktik prostitusi, pemakain obat-obatan
terlarang dan pesta miras yang sudah menjadi menu yang dapat kita saksikan
setiap harinya di layar kaca maupun di media cetak, terutama mereka masyarakat
yang notabenenya adalah komunitas hedonis. Semua itu tak lepas dari lemahnya
system yang ada di Negara kita tercinta ini. Sejauh mana peran serta
pemerintah dan khususnya generasi muda
sekarang dalam meneruskan cita-cita para pejuang dan sumbangsihnya
mengisi kemerdekaan RI. Baik karya nyata maupun rasa nasionalismenya.
Menarik, bahwa sejarah bangsa
memperlihatkan, jauh sebelum kita mencita-citakan kemerdekaan, kita ingin
terlebih dahulu meraih persatuan. Seperti yang tertuang dalam Sumpah Pemuda
1928. Sumpah itu tentu sudah mengandung cita-cita kemerdekaan, hanya
kemerdekaan itu belum dinyatakan secara eksplisit. Yang eksplisit dinyatakan
adalah cita-cita persatuan, dalam hal nusa, bangsa, dan bahasa.
Memang tema utama Kongres Pemuda,
baik yang pertama (1926) maupun yang kedua (1928) adalah persatuan. Para pemuda
merasa, mereka semua sedang menumbuhkan kesadaran akan persatuan, kendati
mereka berasal dari berbagai pulau dengan latar belakang yang beragam. Maka
mereka meninggalkan organisasi kesukuan mereka, seperti Jong Java, Sekar
Roekoen, Jong Ambon, Jong Batak, Jong Celebes dan lain-lainnya, lalu bergabung
dalam Indonesia Moeda.
Hal paling menonjol dalam cita-cita
meraih persatuan itu adalah kerelaan mereka untuk menyetujui bahasa Melayu
sebagai bahasa persatuan. Para pemuda rela meninggalkan bahasa mereka demi
bahasa persatuan. Bahkan pemuda-pemuda Jawa yang dikenal "fanatik"
dengan bahasa adiluhung-nya pun rela memilih bahasa Melayu sebagai
bahasa persatuan.
Soeharto dan rezimnya memang sudah
tumbang. Itu tidak berarti, bahwa tinggalan ideologi persatuannya juga
terkikis. Sekarang pun kita masih tergoda memikirkan persatuan itu secara
mistis, dan mensakralkannya. Maka tugas jaman reformasi adalah
mendemitologisasikan dan mendesakralisasikan persatuan itu.
Dengan sepenuh hati, Sumpah Pemuda harus
dihormati. Akan tetapi tidaklah mungkin, sekarang kita menggagas persatuan
dengan cara para pemuda dulu menggagasnya. Bagi mereka, persatuan itu adalah
mono-kausal. Mereka sama-sama tertindas oleh kekuasaan kolonial, karena itu
mereka ingin bersatu memerdekakan diri. Justru karena itu, persatuan mereka
memperoleh daya yang sifatnya mitis.
Sekarang, penindasan itu sudah
hilang. Kita mengalami persatuan itu dalam konteksnya yang real, yakni
pluralitas bangsa yang tidak mudah begitu saja di persatukan.
KESEMPATAN
Dalam konteksnya yang real ini,
persatuan hanya dapat dipertahankan dengan langkah-langkah yang rasional. Jiwa
dari langkah-langkah rasional ini adalah semangat sumpah pemuda sendiri, yakni
meraih persatuan demi kemerdekaan.
Ironisnya, era reformasi telah
banyak disalahgunakan oleh sebagian besar generasi muda yang melakukan
tindakan-tindakan menjurus anarkis. Demonstrasi tanpa tujuan yang jelas telah
merusak dan mencoreng nama bangsa.
Boleh dikatakan, era sekarang sudah
waktunya pemerintah dan orang tua memberi kesempatan kepada generasi muda untuk
menjadi kader-kader penerus perjuangan bangsa.
Mulai dari sumber daya manusianya,
visi dan misi kebangsaannya sampai kepada sikap/mental . Kalau ketiga unsur ini
tidak dimiliki, harapan untuk memperbaiki keadaan bangsa yang belum pulih ini
akan menjadi impian belaka.
Generasi muda juga perlu dikader
oleh generasi yang lebih senior secara berkesinambungan agar mempunyai dasar
dan filosofi yang benar tentang kenegaraannya.
Melihat perilaku sekularisme dan konsumerisme
pemuda sekarang sangat tinggi yang akhirnya bisa merusak moral dan perilaku
daripada pemuda itu sendiri.
Seharusnya, pemerintah perlu
merespon hal ini dengan memberikan mereka ruang atau tempat untuk menyalurkan
kreatifitas mereka. Entah itu ruang seni atau sebuah sanggar yang siap
mengarahkan mereka.
Akan tetapi, adakalanya dan
kebanyakan dari generasi muda sekarang sudah tidak perduli dengan kreatifitas
dan talenta yang ada di dalam dirinya.
Banyaknya organisasi kepemudaan
sekarang hampir tidak pernah melihat fungsinya secara mendasar. Ada oknum
tertentu yang memanfaatkan organisasi tersebut sebagai jurus ampuh untuk
"meminta" sesuatu dari masyarakat minoritas dan masyarakat umum.
Padahal, organisasi adalah salah
satu wadah bagi sekelompok orang untuk tempat bertukar pendapat dan menambah
wawasan sesama anggotanya. Sudah saatnya organisasi-organisasi kepemudaan
mempunyai visi dan misi yang jelas dalam mempersatukan bangsa dan mengangkat
harkat martabat bangsa.
Menghadapi semakin ketatnya persaingan
terutama dalam perolehan lapangan kerja, beberapa organisasi kepemudaan perlu
mempertajam visinya dengan memasukkan program-program yang mengarah ke
pengembangan sumber daya manusia yang ada di dalam organisaasi tersebut.
HINDARI NARKOBA
Kita tidak bisa menutup mata kalau
belakangan ini ada oknum-oknum tertentu yang mencoba memecah belah persatuan
bangsa. Baik berupa teror maupun adu domba antar suku.
Demikian paparan dari salah seorang
aktivis organisasi kepemudaan, Sofyan Sidabalok dalam sebuah kesempatan.
Disamping itu, katanya, era
reformasi sekarang ini masih juga banyak generasi muda yang menciptakan
sekat-sekat dan tidak mau berbaur dengan pemuda lainnya untuk mencoba
mengembangkan potensi diri masing-masing.
Padahal, kalau sekat-sekat itu
dihilangkan, cita-cita untuk menggalang persatuan dan menciptakan kebersamaan
dalam mengisi kemerdekaan pastilah sangat mudah.
Pembauran dan kebersamaan antar
suku, agama dan golongan perlu dipupuk agar tidak ada lagi perbedaan yang
mendalam. Istilah "pembauran" yang dipergunakan saat ini kurang tepat
dan perlu pengertian yang lebih spesifik yakni "solidaritas bangsa.
Istilah solidaritas bangsa memiliki
pengertian kalau yang satu susah maka semuanya merasa susah dan sebaliknya
kalau satu senang maka semuanya akan senang. Jangan hanya dipermukaan saja
kelihatan rukun tapi kenyataan mudah pecah.
Memang, dikotomi itu masih ada
dengan masih munculnya istilah asli-tidak asli, pribumi-non pribumi,
sipil-militer, minoritas dan mayoritas. Untuk menghilangkan dikotomi ini cara
berpikir kita perlu dibuka lebar-lebar.
Disamping itu, rasa nasionalisme
didalam setiap diri masyarakat, terutama generasi muda perlu dipupuk dan
dipelihara agar rasa memiliki negara ini juga tetap lestari dan bertahan sampai
kapan pun. Bukankah generasi muda sudah sepakat untuk tetap memegang teguh
Sumpah Pemuda !
Masa lalu jangan dijadikan momok
untuk tetap bertahan dan mencoba memisahkan diri dari pembauran. Kalau rasa
seperti ini dipertahankan, impian untuk menciptakan kesatuan dan persatuan tak
akan pernah bisa diwujudkan.
Generasi muda sebagai penerus
perjuangan memiliki beban yang tak berat dipundak untuk mengisi kemerdekaan.
Sekarang saatnya generasi muda berperan aktif dalam berbagai kegiatan yang bisa
mengembangkan kreatifitas, sikap dan mental. Yang terpenting, jangan sampai
terjerumus dengan kenikmatan dunia seperti narkoba dan judi.
Untuk pengawasan masalah narkoba
dan judi ini, semua kalangan berharap agar pemerintah jangan lagi setengah hati
untuk menindak dan menghukum pelakunya.
Sekarang adalah saatnya generasi
menunjukkan karya nyatanya dalam mengisi kemerdekaan. Jangan hanya dimulut,
tapi juga dibuktikan dengan perbuatan.
Karya nyata yang bisa dilakukan
untuk saat sekarang sangat beragam. Generasi muda bisa mengoreksi diri sendiri,
potensi apa yang ada di dalam dirinya dan mengembangkan potensi tersebut dengan
maksimal. Entah itu lewat organisasi atau perorangan yang pada akhirnya
membuahkan hasil yang nyata dan bermanfaat di masa yang akan datang.
*Oleh Abiseka Anoraga (Mahasiswa FIA Brawijaya / Ketua DPM FIA UB 2012)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar