Selasa, 24 April 2012

“BUKTIKAN KARYA NYATA ITU DENGAN PERUBAHAN”


Setelah berabad-abad lamanya terbelenggu dalam jeratan penjajah, tepatnya pada tangggal 17 Agustus 1945 Indonesia untuk pertama kalinya memekikkan suara kemerdekaan yang menggema ke seluruh penjuru negeri. Setelah melalui perjuangan yang cukup melelahkan serta pengorbanan yang menelan nyawa yang tak terhitung jumlahnya sampai saat ini. Sekitar 64 tahun sudah pekikan kemerdekan itu berlalu, namun apa yang ada dan kita saksikan sekarang masih jauh dari harapan para pendahulu kita.
Kita semua menyadari bahwa sumbangsih pejuang terhadap kemerdekaan sangatlah besar. Mereka rela mengorbankan nyawa demi sebuah kemerdekaan bangsa. Lantas, bagaimana dengan sekarang ? Kemerdekaan yang mestinya kita isi dengan pembangunan di segala bidang, malah melahirkan banyak koruptor yang tidak hanya membobol milyaran uang negara, bahkan triliunan. Belum lagi penyakit masyarakat yang sulit di berantas, seperti praktik prostitusi, pemakain obat-obatan terlarang dan pesta miras yang sudah menjadi menu yang dapat kita saksikan setiap harinya di layar kaca maupun di media cetak, terutama mereka masyarakat yang notabenenya adalah komunitas hedonis. Semua itu tak lepas dari lemahnya system yang ada di Negara kita tercinta ini.  Sejauh mana peran serta pemerintah dan khususnya generasi muda  sekarang dalam meneruskan cita-cita para pejuang dan sumbangsihnya mengisi kemerdekaan RI. Baik karya nyata maupun rasa nasionalismenya.
Menarik, bahwa sejarah bangsa memperlihatkan, jauh sebelum kita mencita-citakan kemerdekaan, kita ingin terlebih dahulu meraih persatuan. Seperti yang tertuang dalam Sumpah Pemuda 1928. Sumpah itu tentu sudah mengandung cita-cita kemerdekaan, hanya kemerdekaan itu belum dinyatakan secara eksplisit. Yang eksplisit dinyatakan adalah cita-cita persatuan, dalam hal nusa, bangsa, dan bahasa.
Memang tema utama Kongres Pemuda, baik yang pertama (1926) maupun yang kedua (1928) adalah persatuan. Para pemuda merasa, mereka semua sedang menumbuhkan kesadaran akan persatuan, kendati mereka berasal dari berbagai pulau dengan latar belakang yang beragam. Maka mereka meninggalkan organisasi kesukuan mereka, seperti Jong Java, Sekar Roekoen, Jong Ambon, Jong Batak, Jong Celebes dan lain-lainnya, lalu bergabung dalam Indonesia Moeda.
Hal paling menonjol dalam cita-cita meraih persatuan itu adalah kerelaan mereka untuk menyetujui bahasa Melayu sebagai bahasa persatuan. Para pemuda rela meninggalkan bahasa mereka demi bahasa persatuan. Bahkan pemuda-pemuda Jawa yang dikenal "fanatik" dengan bahasa adiluhung-nya pun rela memilih bahasa Melayu sebagai bahasa persatuan.
Soeharto dan rezimnya memang sudah tumbang. Itu tidak berarti, bahwa tinggalan ideologi persatuannya juga terkikis. Sekarang pun kita masih tergoda memikirkan persatuan itu secara mistis, dan mensakralkannya. Maka tugas jaman reformasi adalah mendemitologisasikan dan mendesakralisasikan persatuan itu.
Dengan sepenuh hati, Sumpah Pemuda harus dihormati. Akan tetapi tidaklah mungkin, sekarang kita menggagas persatuan dengan cara para pemuda dulu menggagasnya. Bagi mereka, persatuan itu adalah mono-kausal. Mereka sama-sama tertindas oleh kekuasaan kolonial, karena itu mereka ingin bersatu memerdekakan diri. Justru karena itu, persatuan mereka memperoleh daya yang sifatnya mitis.
Sekarang, penindasan itu sudah hilang. Kita mengalami persatuan itu dalam konteksnya yang real, yakni pluralitas bangsa yang tidak mudah begitu saja di persatukan.
KESEMPATAN
Dalam konteksnya yang real ini, persatuan hanya dapat dipertahankan dengan langkah-langkah yang rasional. Jiwa dari langkah-langkah rasional ini adalah semangat sumpah pemuda sendiri, yakni meraih persatuan demi kemerdekaan.
Ironisnya, era reformasi telah banyak disalahgunakan oleh sebagian besar generasi muda yang melakukan tindakan-tindakan menjurus anarkis. Demonstrasi tanpa tujuan yang jelas telah merusak dan mencoreng nama bangsa.
Boleh dikatakan, era sekarang sudah waktunya pemerintah dan orang tua memberi kesempatan kepada generasi muda untuk menjadi kader-kader penerus perjuangan bangsa.
Mulai dari sumber daya manusianya, visi dan misi kebangsaannya sampai kepada sikap/mental . Kalau ketiga unsur ini tidak dimiliki, harapan untuk memperbaiki keadaan bangsa yang belum pulih ini akan menjadi impian belaka.
Generasi muda juga perlu dikader oleh generasi yang lebih senior secara berkesinambungan agar mempunyai dasar dan filosofi yang benar tentang kenegaraannya.
Melihat perilaku sekularisme dan konsumerisme pemuda sekarang sangat tinggi yang akhirnya bisa merusak moral dan perilaku daripada pemuda itu sendiri.
Seharusnya, pemerintah perlu merespon hal ini dengan memberikan mereka ruang atau tempat untuk menyalurkan kreatifitas mereka. Entah itu ruang seni atau sebuah sanggar yang siap mengarahkan mereka.
Akan tetapi, adakalanya dan kebanyakan dari generasi muda sekarang sudah tidak perduli dengan kreatifitas dan talenta yang ada di dalam dirinya.
Banyaknya organisasi kepemudaan sekarang hampir tidak pernah melihat fungsinya secara mendasar. Ada oknum tertentu yang memanfaatkan organisasi tersebut sebagai jurus ampuh untuk "meminta" sesuatu dari masyarakat minoritas dan masyarakat umum.
Padahal, organisasi adalah salah satu wadah bagi sekelompok orang untuk tempat bertukar pendapat dan menambah wawasan sesama anggotanya. Sudah saatnya organisasi-organisasi kepemudaan mempunyai visi dan misi yang jelas dalam mempersatukan bangsa dan mengangkat harkat martabat bangsa.
Menghadapi semakin ketatnya persaingan terutama dalam perolehan lapangan kerja, beberapa organisasi kepemudaan perlu mempertajam visinya dengan memasukkan program-program yang mengarah ke pengembangan sumber daya manusia yang ada di dalam organisaasi tersebut.

HINDARI NARKOBA
Kita tidak bisa menutup mata kalau belakangan ini ada oknum-oknum tertentu yang mencoba memecah belah persatuan bangsa. Baik berupa teror maupun adu domba antar suku.
Demikian paparan dari salah seorang aktivis organisasi kepemudaan, Sofyan Sidabalok dalam sebuah kesempatan.
Disamping itu, katanya, era reformasi sekarang ini masih juga banyak generasi muda yang menciptakan sekat-sekat dan tidak mau berbaur dengan pemuda lainnya untuk mencoba mengembangkan potensi diri masing-masing.
Padahal, kalau sekat-sekat itu dihilangkan, cita-cita untuk menggalang persatuan dan menciptakan kebersamaan dalam mengisi kemerdekaan pastilah sangat mudah.
Pembauran dan kebersamaan antar suku, agama dan golongan perlu dipupuk agar tidak ada lagi perbedaan yang mendalam. Istilah "pembauran" yang dipergunakan saat ini kurang tepat dan perlu pengertian yang lebih spesifik yakni "solidaritas bangsa.
Istilah solidaritas bangsa memiliki pengertian kalau yang satu susah maka semuanya merasa susah dan sebaliknya kalau satu senang maka semuanya akan senang. Jangan hanya dipermukaan saja kelihatan rukun tapi kenyataan mudah pecah.
Memang, dikotomi itu masih ada dengan masih munculnya istilah asli-tidak asli, pribumi-non pribumi, sipil-militer, minoritas dan mayoritas. Untuk menghilangkan dikotomi ini cara berpikir kita perlu dibuka lebar-lebar.
Disamping itu, rasa nasionalisme didalam setiap diri masyarakat, terutama generasi muda perlu dipupuk dan dipelihara agar rasa memiliki negara ini juga tetap lestari dan bertahan sampai kapan pun. Bukankah generasi muda sudah sepakat untuk tetap memegang teguh Sumpah Pemuda !
Masa lalu jangan dijadikan momok untuk tetap bertahan dan mencoba memisahkan diri dari pembauran. Kalau rasa seperti ini dipertahankan, impian untuk menciptakan kesatuan dan persatuan tak akan pernah bisa diwujudkan.
Generasi muda sebagai penerus perjuangan memiliki beban yang tak berat dipundak untuk mengisi kemerdekaan. Sekarang saatnya generasi muda berperan aktif dalam berbagai kegiatan yang bisa mengembangkan kreatifitas, sikap dan mental. Yang terpenting, jangan sampai terjerumus dengan kenikmatan dunia seperti narkoba dan judi.
Untuk pengawasan masalah narkoba dan judi ini, semua kalangan berharap agar pemerintah jangan lagi setengah hati untuk menindak dan menghukum pelakunya.
Sekarang adalah saatnya generasi menunjukkan karya nyatanya dalam mengisi kemerdekaan. Jangan hanya dimulut, tapi juga dibuktikan dengan perbuatan.
Karya nyata yang bisa dilakukan untuk saat sekarang sangat beragam. Generasi muda bisa mengoreksi diri sendiri, potensi apa yang ada di dalam dirinya dan mengembangkan potensi tersebut dengan maksimal. Entah itu lewat organisasi atau perorangan yang pada akhirnya membuahkan hasil yang nyata dan bermanfaat di masa yang akan datang.

*Oleh Abiseka Anoraga (Mahasiswa FIA Brawijaya / Ketua DPM FIA UB 2012)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar