Sungguh pandangan
dan asumsi yang keterlaluan jika menyamakan teroris dengan Islam dan
kegiatannya. Teroris itu bisa siapa saja dan dari agama apa saja. Uhat misalnya
teroris yang dulu kerap melanda Britania Raya (Inggris). Pelakunya adalah
kelompok IRA. sebuah kelompok teroris yang berbasis agama Katholik di Irlandia
Utara.
Di Jepang ada
kelompok atau Satuan Tentara Merah. Mereka juga kerap digolongkan sebagai kaum
teroris yang kerap merenggut nyawa lawan-lawan politiknya. Teroris Tentara
Merah Jepang tni Juga bukan berasal dari Islam. Mereka ada yang beragama
Shinto. Krtstea dan Budha Df Nepal ada kelompok teroris Mao. Kelompok ini pun
kerap menebar teror dengan sasaran laujan-laiuan politik kelompok tersebut.
Sekali lagi kelompok Mao inipun bukan dari kalangan Islam. Persoalannnya disini
adalah bukan siapa yang menjadi teroris, tetapi mengapa mereka menjadi teroris?
Tentara Jepang
lahir di Negeri Sakura, karena adanya perbedaan kelas yang menyolok pada waktu
itu. Dimana kemakmuran yang melanda Jepang pasca Perang Dunia II hanya
dinikmati segelintir orang saja, terutama para penguasa. Ketidakadilan inilah
yang menimbulkan sikap perlawanan. Dan munculah kemudian Tentara Merah.IRA pun
demikian. Mereka melihat sikap Inggris yang tidak toleran dan selalu
menomorduakan kelompok minoritas (Irlandia dan Katholik), sehingga muncul
perlawanan darinya. Untuk berhadap-hadapan secara terbuka, IRA tidak akan
mampu. Maka yang dilakukannya adalah dengan menebar teror.
Hal yang samajuga
terjadi di Nepaldan negara-negara lain di dunia ini Bahkan ketika Israel belum
mendapatkan negaranya seperti sekarang. Mereka pun ke-lap melakukan teror
kepada para lawannya. Jadi kesimpulannya adalah kelldakadilan-lah yang
menyebabkan timbulnya terorisme.Karena (tu, bila kita mau me-laujan terorisme.
Yang mesti kita lawan dulu adalah ketidakadilan itu sendiri Dengan bersama-sama
kita menegakan keadilan kila yakin, segala macam bentuk teror akan hilang
dengan sendiri. IRA sekarang menghentikan kegiatan aksinya, karena mereka sudah
mendapatkan keadilan.
Insiden yang baru
saja terjadi yakni pengeboman gereja di Solo, Jawa Tengah. Bom yang meledak di
Solo sama dengan bom yang terjadi di kota Cirebon. Apakah keduanya saling
berkaitan dengan Polri masih melakukan penyelidikan. Tindakan ini benar-benar
disayangkan karena mengingat negara kita akan melakukan event besar seperti
Asean Games.
Rupanya para pelaku aksi terror tersebut tidak menyadari bahwa akibat ulah mereka, umat Islam di dunia kena getahnya. Umat Islam secara umum. Mereka yang ingin menjalankan ajaran Islam secara kaffah, sering mendapat predikat sebagai “teroris” dan harus dibasmi dari akar-akarnya. Pelanggaran yang dilakukan oleh segelintir orang, dinisbatkan ke seluruh umat Islam.
Rupanya para pelaku aksi terror tersebut tidak menyadari bahwa akibat ulah mereka, umat Islam di dunia kena getahnya. Umat Islam secara umum. Mereka yang ingin menjalankan ajaran Islam secara kaffah, sering mendapat predikat sebagai “teroris” dan harus dibasmi dari akar-akarnya. Pelanggaran yang dilakukan oleh segelintir orang, dinisbatkan ke seluruh umat Islam.
Negara Islam: Agenda Teroris?
Umat Islam di Indonesia tidak kali ini saja mendengar “narasi” (cerita) yang disampaikan aparat kepolisian dan pihak terkait, bahwa agenda para teroris adalah mendirikan Negara Islam dan menegakkan syariah Islam. Kasus perampokan Bank CIMB di Medan, Sumut, misalnya dianggap sebagai bagian dari rentetan dari agenda teroris untuk mengambil-alih kekuasaan untuk mendirikan Negara Islam (Daulah Islam). Betulkah?
Untuk menguji kebenaran “narasi” (cerita) atau dugaan di atas, tentu perlu diajukan beberapa pertanyaan. Pertama: Benarkah perampokan oleh “para teroris” itu sama dengan mengambil harta fa’i? Kedua: Bisakah mendirikan Negara Islam ditempuh dengan cara melakukan tindakan teror? Ketiga: mengapa aparat terkesan memaksakan wacana “Negara Islam” sebagai agenda para teroris, kemudian dibangun opini sedemikian rupa tentang bahaya Negara Islam?
Bukan Harta Fa’i
Tidak dipungkiri, di tengah-tengah kaum Muslim ada pemahaman agama yang keliru, yang kemudian menjadi dasar untuk melakukan aksi yang juga keliru. Dalam kasus fa’i (harta rampasan), sebagian kecil kelompok Muslim menganggap harta di luar kelompok mereka adalah seperti harta orang kafir, karena mereka berada di luar Negara Islam yang mereka klaim telah berdiri. Logika ini-yang tanpa hujjah yang bisa dipertanggungjawabkan-lalu menjadi pembenaran atas aksi-aksi “kriminal” untuk mengambil harta orang lain di luar kelompok mereka. Inilah kesalahan fatal dalam memahami fakta fa’i.
Umat Islam di Indonesia tidak kali ini saja mendengar “narasi” (cerita) yang disampaikan aparat kepolisian dan pihak terkait, bahwa agenda para teroris adalah mendirikan Negara Islam dan menegakkan syariah Islam. Kasus perampokan Bank CIMB di Medan, Sumut, misalnya dianggap sebagai bagian dari rentetan dari agenda teroris untuk mengambil-alih kekuasaan untuk mendirikan Negara Islam (Daulah Islam). Betulkah?
Untuk menguji kebenaran “narasi” (cerita) atau dugaan di atas, tentu perlu diajukan beberapa pertanyaan. Pertama: Benarkah perampokan oleh “para teroris” itu sama dengan mengambil harta fa’i? Kedua: Bisakah mendirikan Negara Islam ditempuh dengan cara melakukan tindakan teror? Ketiga: mengapa aparat terkesan memaksakan wacana “Negara Islam” sebagai agenda para teroris, kemudian dibangun opini sedemikian rupa tentang bahaya Negara Islam?
Bukan Harta Fa’i
Tidak dipungkiri, di tengah-tengah kaum Muslim ada pemahaman agama yang keliru, yang kemudian menjadi dasar untuk melakukan aksi yang juga keliru. Dalam kasus fa’i (harta rampasan), sebagian kecil kelompok Muslim menganggap harta di luar kelompok mereka adalah seperti harta orang kafir, karena mereka berada di luar Negara Islam yang mereka klaim telah berdiri. Logika ini-yang tanpa hujjah yang bisa dipertanggungjawabkan-lalu menjadi pembenaran atas aksi-aksi “kriminal” untuk mengambil harta orang lain di luar kelompok mereka. Inilah kesalahan fatal dalam memahami fakta fa’i.
Padahal, Islam
mengajar kita untuk menyelidiki kebenaran apa yang dilihat dengan sikap
tabayyun. Dalam dunia akademik, kita selalu dilatih untuk bersikap kritis,
bertanya tentang Apa, Siapa, Bagaimana, Kapan, Di mana, dan Kenapa? Dalam
falsafah, kita juga diajarkan untuk, “memberikan 25% kepercayaan terhadap apa
yang kita dengar, memberikan 50% kepercayaan terhadap apa yang kita lihat, dan
percayai hasil penyelidikan”.
Inilah yang
kemudian menjadi alasan dan pembenaran atas tindakan aparat Densus 88 yang
membabi-buta terhadap orang-orang yang disangka pelaku tindak pidana terorisme.
Terakhir, bagaimana Densus 88 secara arogan dan kasar menginjak-injak tubuh
Khairil Ghazali yang sedang menunaikan shalat maghrib saat Densus yang
berjumlah sekitar 30 orang dan bersenjata lengkap menyerbu dan mendobrak
rumahnya. Padahal, setidaknya menurut pengakuan keluarganya, tak mungkin
Ghazali terlibat kasus terorisme. Sebelum ini, selama kurun waktu 2000-2010
saja, sebanyak 44 orang yang disangka teroris tewas ditembak aparat.
Sebagai
bangsa, kita harus satu hati mendukung upaya Polri dan insan-insan intelijen
kita untuk terus membongkar jaringan terorisme di Tanah Air dan menyeret mereka
ke muka hukum. Ini penting agar ke depan, kita bisa hidup lebih damai dengan
sesam pemeluk agama lain dan tidak lagi hidup dalam suasana saling curiga satu
sama lain. *Oleh Abiseka Anoraga (Mahasiswa S1 FIA Brawijaya / Ketua DPM FIA 2012)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar