Kamis, 26 April 2012

“PEMUDA : PEJUANG KINI, HEBAT NANTI”

Negara Indonesia dibangun melalui peradaban yang sangat panjang dari jaman kerajaan hingga jaman modern. Otonomi daerah telah memberikan warna dalam perkembangan kepemimpinan di Indonesia. Golongan pemimpin identik dengan golongan tua di mana, para pemuda kurang diberikan kesempatan untuk dapat memimpin. Namun, patut untuk disadari bahwa batasan usia tidaklah menjamin kematangan seseorang untuk lebih maju. Pemimpin yang baik adalah seseorang yang dapat mengemban amanah perjuangan Bangsa Indonesia yang telah diamanatkan dalam pembukaan UUD 1945.
Salah satu bukti yang membangkitkan semangat kaum muda Indonesia entah di sadari atau tidak adalah dengan adanya tayangan iklan yang menyatakan “belum tua belum boleh bicara”. Ini adalah suatu bukti teguran untuk para pemuda di Indonesia, sadar atau tidak tayangan tersebut sebetulnya telah memberikan semangat kepada para pemuda untuk angkat bicara atau siap menjadi pemimpin dengan bekal ilmu pengetahuan dan kemampuan intelektualitas dengan tidak melihat kedudukan dan jabatan orang tuanya.
Apabila melihat perjuangan Bangsa Indonesia atau sering dibilang sebagai masa kejayaan nusantara, justru yang membawa nusantara berjaya adalah sosok pemimpin dari seorang pemuda yang mempunyai kemauan keras untuk memajukan nusantara. Berkat pejuangan dan kemauan keras tersebut akhirnya nusantara berada dalam puncak kejayaan.
Pemuda sebagai ujung tombak bangsa Indonesia ternyata secara tidak langsung telah dihegemoni tentang hak-haknya oleh golongan tua yang merasa telah mapan dan lebih berpengalaman. Dalih itulah yang selalu didengung-dengunkan oleh kaum tua untuk menghegemoni hak-hak pemuda Indonesia.
HAM telah memberikan hak kepada seseorang untuk bebas berfikir namun, justru yang terjadi adalah hegemoni terhadap para intelektual muda. Intelektual muda seolah-olah hanya dijadikan sebagai alat pemuas kaum tua yang ingin mempertahankan hegemoninya tersebut. Salahkah, sekarang jika para pemuda Indonesia kurang dapat berkembang. Tentunya, hal itu tidak demikian adanya namun akibat belenggu hak-hak pemuda dalam mengembangkan dirinya yang selalu dihegemoni oleh golongan tua.
Sudah saatnyalah sekarang, kaum muda Indonesia bangkit dan memperjuangkan hak-haknya. Selama ini, pemuda sendiri telah dinanabobokan oleh golongan tua hanya sebagai alat belaka. Adakah keadilan HAM apabila para pemuda terus dibelengu oleh dongeng-dongeng yang selalu menceritakan golongan tua dalam memimpin bangsa ini.
Sebagai bukti konkrit, itu semua dapat dilihat dengan jelas sekali di dunia kampus. Dunia kampus yang dinilai sebagai pusat akademik namun kurang memberikan kebebasan secara psikologis bagi kaum muda untuk dapat berkarya. Dosen dianggap sebagai dewa yang maha tahu, mahasiwa dianggap orang yang sedang diajari untuk tahu tentang apa yang disampaikannya. Bahkan, dalam organisasi kampus sendiri, senior selalu membanggakan dirinya dengan kata-kata “bagimana organisasi ini mau maju, lihat dong perjuangan abang dan emba kalian tempo dulu”. Sejujurnya kata tersebut kurang pantas untuk diucapkan oleh para senior di dunia akademik, sebab akan menimbulkan beban bukannya motivasi untuk maju dalam mengembangkan organisasi. Itulah bukti, bahwa hak kaum muda selalu mendapatkan tekanan dari golongan tua, senior dianggap paling tahu segala-galanya.
Sesuai dengan pepatah Jawa “setetes banyu ngademi, seperci genik manasi”. Kata tersebut begitu sangat dalam artinya, bahwa doa orang tua akan memberikan kita kesejukan dan amarahnya akan mendatangkan malapetaka dalam kehidupan. Begitu pentingnya doa orang tua dan dukungan golongan tua sebagai pengarah, jika pemuda diberikan kesempatan ini maka dengan melihat kejayaan nusantara tidaklah mustahil Indonesia akan menjadi lebih baik dari sekarang. Sebab, pemuda mempunyai mobilitas yang lebih tinggi, orang tua memberikan arah terhadap mobilitas pemuda, dan ibu memberikan kesejukan.
Baik kawan, Jika kita memandang keluar, banyak sekali permasalahan-permasalahan bangsa ini yang perlu diperbaiki. Salah satu diantaranya pemuda adalah agen perubahan yang memiliki beban moral yang besar dalam perjalanan bangsa ini, jatuh bangunnya bangsa ini tidak terlepas dari tanggung jawab generasi-generasi pemuda indonesia, karena masa depan negara ini terletak di pundak para pemuda hari ini. Pemikiran dan gagasan kaum muda selalu menjadi inspirasi kebangkitan bangsa ini ke arah perubahan yang lebih baik.
Makanya, tidak ada salahnya jika para pemuda kemudian menjadi pelopor di bidangnya masing-masing. Harus ada yang menjadi pelopor di bidang pendidikan, ekonomi, tekhnologi, politik, budaya, perdamaian dan keamanan. Tentunya hal-hal ini harus didasari rasa cinta terhadap tanah air indonesia.
            Sehingga bangsa ini benar-benar memiliki pemuda-pemuda yang kreatif, mandiri, aktif dalam memajukan bangsa, serta memiliki peran penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Namun tidak terlepas pula dalam menjauhi konflik-konflik kehidupan yang dapat menyebabkan perpecahan. Hingga akhirnya benarlah bahwa hebat dalam arti yang sesungguhnya dapat dirasakan atas perjuangan kawan-kawan pemuda dengan perannya terhadap kemajuan bangsa walaupun penuh dengan tantangan globalisasi yang mempengaruhi kemandirian bangsa indonesia.
*Oleh Abiseka Anoraga (Mahasiswa S1 FIA Brawijaya / Ketua DPM FIA 2012)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar