Kamis, 26 April 2012

“PEMUDA PEWARIS BUDAYA”


Generasi Muda sebagai pewaris, penerus cita-cita perjuangan bangsa dan sebagai sumber insani bagi pembangunan nasional, ibarat mata rantai yang tergerai panjang, posisi generasi muda dalam masyarakat menempati mata rantai yang paling sentral dalam artian bahwa, pemuda berperan sebagai pelestari nilai budaya, kejuangan, pelopor dan perintis pembaruan melalui karsa, karya dan dedikasI. Selain itu pemuda juga mempunyai peran dalam menggerakkan pembangunan sekaligus menjadi pelaku aktif dalam proses pembangunan nasional serta berperan dalam memperkokoh Persatuan dan Kesatuan Bangsa.
Melihat potensi pemuda yang begitu besar dan telah terbukti melalui peran-peran kesejarahan mereka baik dalam perjuangan meraih kemerdekaan maupun dalam mempertahankannya dan juga dalam menumbangkan rezim-rezim penguasa yang korup, maka sudah seharusnya mereka diberi peran dan berperan dalam mengisi kemerdakaan melalui usaha-usaha pembangunan dalam segala aspek kehidupan bangsa, dengan memposisikan mereka (para pemuda) bukan sekedar obyek tapi juga sebagai subyek (pelaku) pembangunan. Karena pada hakekatnya pembangunan adalah upaya perubaan ke arah kehidupan yang lebih baik, dari, oleh dan untuk rakyat (bangsa) dimana pemuda adalah bagian yang tak terpisahkan darinya. Maka pemberian peran-peran kepada pemuda dalam usaha pembangunan bangsa adalah suatu hal yang mutlak karena, selain mereka-sebagai bagian dari bangsa-juga berkepentingan dan berhak terhadap hasil pembangunan, juga karena mereka mempunyai potensi yang cukup besar, baik fisik maupun mental (seperti intelektualitas dll) yang bisa didayagunakan dalam pembangunan . Merekalah sebenarnya pewaris kekayaan dan pelanjut perjuangan bangsa ini.
Segala sesuatu yang ada didalam masyarakat ditentukan oleh budaya masyarakat itu sendiri, baik ataupun buruknya juga tergantung bagaimana kaum pemuda memaknai. Secara sadar ataupun tidak sadar masyarakat melalui anggota-anggotanya akan mengajarkan kebudayaannya. Proses mengajarkan inilah yang dinamakan transformasi budaya atau pewarisan budaya.
Suatu hal yang tidak bisa membuat siapapun yang sudah berumur, menjadi santai dan tenang dalam hidup, adalah ketika masalah pewarisan kepemilikan terutama dalam hal budaya yang lambat laun mulai terlupakan oleh generasi muda kita yang lebih condong kearah modernisasi. Pewarisan budaya selalu mendapat perhatian bagi yang tua terutama dan juga bagi pemuda . Yang tua ingin mewariskan budaya pada yang muda, sedangkan yang muda pun merasa prihatin apabila tidak bisa menjaga budaya apa yang telah diwariskan.
Banyuwangi adalah kabupaten terluas di Jawa Timur. Karakter wilayah yang terletak di ujung paling timur Pulau Jawa ini juga menarik untuk di ketahui selain wilayah tapal kuda. Banyuwangi menyimpan segudang budaya yang memiliki potensi amat sangat luar biasa. Kabupaten Banyuwangi selain menjadi perlintasan dari Jawa ke Bali, juga merupakan daerah pertemuan berbagai jenis kebudayaan dari berbagai wilayah. Budaya masyarakat Banyuwangi diwarnai oleh budaya Jawa, Bali, Madura, Melayu, Eropa dan budaya lokal yang saling isi mengisi dan akhirnya menjadi tipikal yang tidak ditemui di wilayah manapun di Pulau Jawa. Banyak kesenian tradisional khas Banyuwangi yang sangat terkenal diantaranya : Jejer Gandrung, Seblang, Janger, Rengganis, Hadrah Kuntulan, Patrol, Kebo-keboan, dll. Dan juga terdapat banyak sekali music khas banyuwangi. Modernisasipun tidak terelakkan dalam seni musik Banyuwangi, muncul berbagai varian musik yang merupakan paduan tradisional dan modern, seperti Kunthulan Kreasi, Gandrung Kreasi, Kendhang Kempul Kreasi dan Janger Campursari yang memasukkan unsure elekton kedalam musiknya, dan menjadi kesenian popular di kalangan masyarakat. Namun demikian, sebagian pakar kebudayaan mengkhawatirkan seni kreasi ini akan menggeser kesenian klasik yang sudah berkembang selama beratus-ratus tahun.
Banyuwangi kaya akan potensi budaya yang apabila dimanajemen dan ditata kelola dengan baik akan mampu mengharumkan nama Banyuwangi di kancah Nasional dan Internasional. Peran pemerintah Kabupaten Banyuwangi juga sangat penting dalam proses pembibitan atau pewarisan budaya dari para seniman yang sudah berumur kepada para pemuda Banyuwangi yang masih sangat banyak memiliki potensi dan kepedulian. Karena tanpa peran pemerintah akan sulit bagi kaum pemuda untuk mengembangkan budaya yang sungguh amat sangat luar biasa. Untuk itu sekarang adalah saatnya generasi pemuda Banyuwangi Untuk menunjukkan karya nyatanya dalam usaha melakukan pewarisan budaya luhur kita. Jangan hanya dimulut, tapi juga dibuktikan dengan perbuatan.
Karya nyata yang bisa dilakukan untuk saat sekarang sangat beragam. Generasi muda bisa mengoreksi diri sendiri, potensi budaya apa yang ada di dalam dirinya dan mengembangkan potensi tersebut dengan maksimal. Entah itu lewat organisasi atau perorangan yang pada akhirnya membuahkan hasil yang nyata dan bermanfaat di masa yang akan datang.  *Oleh Abiseka Anoraga (Mahasiswa S1 FIA Brawijaya / Ketua DPM FIA 2012)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar