Generasi
Muda sebagai pewaris, penerus cita-cita perjuangan bangsa dan sebagai sumber
insani bagi pembangunan nasional, ibarat mata rantai yang tergerai panjang,
posisi generasi muda dalam masyarakat menempati mata rantai yang paling sentral
dalam artian bahwa, pemuda berperan sebagai pelestari nilai budaya, kejuangan,
pelopor dan perintis pembaruan melalui karsa, karya dan dedikasI. Selain itu
pemuda juga mempunyai peran dalam menggerakkan pembangunan sekaligus menjadi
pelaku aktif dalam proses pembangunan nasional serta berperan dalam memperkokoh
Persatuan dan Kesatuan Bangsa.
Melihat
potensi pemuda yang begitu besar dan telah terbukti melalui peran-peran
kesejarahan mereka baik dalam perjuangan meraih kemerdekaan maupun dalam
mempertahankannya dan juga dalam menumbangkan rezim-rezim penguasa yang korup,
maka sudah seharusnya mereka diberi peran dan berperan dalam mengisi kemerdakaan
melalui usaha-usaha pembangunan dalam segala aspek kehidupan bangsa, dengan
memposisikan mereka (para pemuda) bukan sekedar obyek tapi juga sebagai subyek
(pelaku) pembangunan. Karena pada hakekatnya pembangunan adalah upaya perubaan
ke arah kehidupan yang lebih baik, dari, oleh dan untuk rakyat (bangsa) dimana
pemuda adalah bagian yang tak terpisahkan darinya. Maka pemberian peran-peran
kepada pemuda dalam usaha pembangunan bangsa adalah suatu hal yang mutlak
karena, selain mereka-sebagai bagian dari bangsa-juga berkepentingan dan berhak
terhadap hasil pembangunan, juga karena mereka mempunyai potensi yang cukup
besar, baik fisik maupun mental (seperti intelektualitas dll) yang bisa
didayagunakan dalam pembangunan . Merekalah sebenarnya pewaris kekayaan dan
pelanjut perjuangan bangsa ini.
Segala
sesuatu yang ada didalam masyarakat ditentukan oleh budaya masyarakat itu
sendiri, baik ataupun buruknya juga tergantung bagaimana kaum pemuda memaknai.
Secara sadar ataupun tidak sadar masyarakat melalui anggota-anggotanya akan
mengajarkan kebudayaannya. Proses mengajarkan inilah yang dinamakan
transformasi budaya atau pewarisan budaya.
Suatu
hal yang tidak bisa membuat siapapun yang sudah berumur, menjadi santai dan
tenang dalam hidup, adalah ketika masalah pewarisan kepemilikan terutama dalam
hal budaya yang lambat laun mulai terlupakan oleh generasi muda kita yang lebih
condong kearah modernisasi. Pewarisan budaya selalu mendapat perhatian bagi
yang tua terutama dan juga bagi pemuda . Yang tua ingin mewariskan budaya pada
yang muda, sedangkan yang muda pun merasa prihatin apabila tidak bisa menjaga
budaya apa yang telah diwariskan.
Banyuwangi
adalah kabupaten terluas di Jawa Timur. Karakter wilayah yang terletak di ujung
paling timur Pulau Jawa ini juga menarik untuk di ketahui selain wilayah tapal
kuda. Banyuwangi menyimpan segudang budaya yang memiliki potensi amat sangat
luar biasa. Kabupaten Banyuwangi selain menjadi perlintasan dari Jawa ke Bali,
juga merupakan daerah pertemuan berbagai jenis kebudayaan dari berbagai
wilayah. Budaya masyarakat Banyuwangi diwarnai oleh budaya Jawa, Bali, Madura,
Melayu, Eropa dan budaya lokal yang saling isi mengisi dan akhirnya menjadi
tipikal yang tidak ditemui di wilayah manapun di Pulau Jawa. Banyak kesenian
tradisional khas Banyuwangi yang sangat terkenal diantaranya : Jejer Gandrung,
Seblang, Janger, Rengganis, Hadrah Kuntulan, Patrol, Kebo-keboan, dll. Dan juga
terdapat banyak sekali music khas banyuwangi. Modernisasipun tidak terelakkan
dalam seni musik Banyuwangi, muncul berbagai varian musik yang merupakan paduan
tradisional dan modern, seperti Kunthulan Kreasi, Gandrung Kreasi, Kendhang
Kempul Kreasi dan Janger Campursari yang memasukkan unsure elekton kedalam
musiknya, dan menjadi kesenian popular di kalangan masyarakat. Namun demikian,
sebagian pakar kebudayaan mengkhawatirkan seni kreasi ini akan menggeser
kesenian klasik yang sudah berkembang selama beratus-ratus tahun.
Banyuwangi
kaya akan potensi budaya yang apabila dimanajemen dan ditata kelola dengan baik
akan mampu mengharumkan nama Banyuwangi di kancah Nasional dan Internasional.
Peran pemerintah Kabupaten Banyuwangi juga sangat penting dalam proses
pembibitan atau pewarisan budaya dari para seniman yang sudah berumur kepada
para pemuda Banyuwangi yang masih sangat banyak memiliki potensi dan
kepedulian. Karena tanpa peran pemerintah akan sulit bagi kaum pemuda untuk
mengembangkan budaya yang sungguh amat sangat luar biasa. Untuk itu sekarang
adalah saatnya generasi pemuda Banyuwangi Untuk menunjukkan karya nyatanya
dalam usaha melakukan pewarisan budaya luhur kita. Jangan hanya dimulut, tapi
juga dibuktikan dengan perbuatan.
Karya
nyata yang bisa dilakukan untuk saat sekarang sangat beragam. Generasi muda
bisa mengoreksi diri sendiri, potensi budaya apa yang ada di dalam dirinya dan
mengembangkan potensi tersebut dengan maksimal. Entah itu lewat organisasi atau
perorangan yang pada akhirnya membuahkan hasil yang nyata dan bermanfaat di
masa yang akan datang. *Oleh Abiseka Anoraga (Mahasiswa S1 FIA Brawijaya / Ketua DPM FIA 2012)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar