Selasa, 24 April 2012

“PEMIMPIN MUDA DAN MASA DEPAN BANGSA”


PRO dan kontra tampilnya tokoh-tokoh muda dalam Pemilihan Kepala Daerah maupun Caleg 2009 kembali menjadi perbincangan hangat. Beberapa waktu belakangan intensitas pemunculan figur-figur muda yang berani menawarkan solusi masa depan bangsa di ranah publik semakin tinggi.
Keberanian kaum muda untuk unjuk diri di tengah masih dominannya peran tokoh-tokoh senior di kancah politik nasional patut kita beri apresiasi positif. Kelompok muda yang mewakili generasi baru yang penuh dinamika diharapkan membawa gairah dan terobosan baru yang mampu membawa perjalanan bangsa ini menuju pintu keberhasilan, mengejar ketertinggalan dari bangsa-bangsa lain.
Kemunculan orang-orang muda dalam kancah politik adalah sebuah keniscayaan, tak mungkin terelakkan. Saat perjalanan bangsa ini macet tidak seperti yang diharapkan, orang-orang mudalah yang punya kewajiban memimpin barisan perubahan. Justru aneh kalau anak-anak muda kita hanya berpangku tangan, cuek, tidak mau peduli dengan apa yang terjadi di sekelilingnya.
Pergerakan sebuah bangsa tidak pernah terlepas dari upaya dan kerja keras dari kaum mudanya. Segala kreativitas, inovasi, idealisme, dan integritasnya kian kental dalam jiwa-jiwa muda.

Sedikit menilik sejarah Indonesia, peran kaum muda kian terasa dalam membawa bangsa ini keluar dari kenistaan para penjajah. Pada 1908, muncul Kebangkitan Nasional, lalu Sumpah Pemuda (1928), Kemerdekaan Republik Indonesia (1945). Kemudian pergerakan pemuda pascakemerdekaan, Peristiwa Malari (1974), dan gerakan Reformasi (1998) yang merupakan sejumlah deretan noktah sejarah pemuda yang menjadi bagian peradaban Indonesia.

Hingga saat ini, peran dari kaum muda sangat dibutuhkan meskipun dengan cara-cara dan permasalahan yang berbeda. Pengaruh kaum muda memang membawa angin segar bagi peradaban dan kemajuan bangsa ini. Di bawah kepemimpinan jiwa-jiwa muda, Indonesia mulai menemukan jati dirinya dengan mampu terbebas dari penjajah masa itu. Namun, pergerakan pascakemerdekaan terus mendidik Indonesia untuk terus dewasa melalui upaya-upaya yang dilakukan kaum muda.

Dengan semangat yang begitu besar sudah selayaknya bangsa yang besar mampu menghargai dan membangun integritasnya dengan melibatkan kaum muda dalam pembangunan nasional. Beranjak dari kontribusi kaum muda dalam membangun bangsa, ada hal penting yang perlu diperhatikan bahwa kepemimpinan kaum muda yang spektakuler tidak semata-mata timbul dari dirinya.

Jadi kita patut bersyukur dengan makin bertambahnya orang-orang muda yang berani mencalonkan diri sebagai presiden, anggota DPR, anggota DPD, menteri, gubernur, bupati/wali kota, camat hingga lurah/kepala desa. Deretan orang muda yang sukses terpilih menjadi pemimpin pun akan semakin banyak. Ini berarti kehidupan demokrasi semakin matang. Zaman terus bergerak, kaum muda tak lagi hidup dalam suatu isolemen. Bangsa ini masih terlihat gejala seolah-olah kita masih hidup dalam dunia impian kita sendiri. Kadang-kadang terbaca atau terdengar ucapan-ucapan yang meneropong dunia luar lewat sebuah lensa yang sudah usang, sehingga bayangan kita mengenai dunia luar itu tidak serasi dengan kenyataan, hanya serasi dengan impian kita sendiri.
Pilkada merupakan tolok ukur sejauh mana sebagai sebuah bangsa yang merdeka, kaum muda daerah mampu menunjukkan prestasinya dalam berjuang membela keadilan dan menegakkan demokrasi.
Dan, sebagai harapan bangsa, kaum muda mesti mengamalkan perbuatan yang positif dan konstruktif untuk memenuhi panggilan penderitaan rakyat.
Iklim politik di daerah yang melalaikan hak-hak kaum muda daerah untuk berpartisipasi dalam pilkada segera dibenah.
Kesadaran politisi muda untuk menuntut peran mereka dalam proses penyelenggaraan pemerintahan daerah semestinya direspons dengan sebaik-baiknya.
Walau begitu, tidak sedikit yang memandang sinis tampilnya tokoh-tokoh muda dalam kancah politik nasional dengan berbagai alasan. Misalnya tokoh muda disebut masih minim pengalaman, idealis yang cenderung tidak realistis, meledakledak, kurang bijaksana dalam mengambil keputusan, dan sebagainya. Intinya, tokoh-tokoh senior masih meragukan kemampuan anak-anak muda ini jika mereka benar-benar diberi mandat oleh rakyat menjadi pemimpin nasional.
Reaksi kalangan senior ini sangat manusiawi. Mungkin mereka “takut” bersaing dan tidak bisa lagi mengikuti dinamika kaum muda. Tokoh-tokoh senior yang sebagian besar telah merasakan bagaimana mendapatkan kekuasaan cenderung ingin mempertahankan apa yang telah mereka capai. Ada rasa tidak rela kalau “anak-anak kemarin sore” yang dipercaya menjadi pemimpin nasional.
           
Namun, dibutuhkan perhatian, kesigapan, dorongan, dan budaya yang mendukung kepemimpinan kaum muda. Peran dari seluruh lapisan masyarakat dan pemerintah sangat menentukan kualitas kaum muda serta akan menentukan kemajuan bangsa di masa mendatang. Ada dua hal penting yang perlu diperhatikan dalam meningkatkan dan mengembangkan kualitas kaum muda. Pertama, jenjang pendidikan yang ditempuh menentukan pola berpikir dari pemuda tersebut.

Berdasarkan pengalaman sejarah, pergerakan nasional yang diawali dengan Kebangkitan Nasional (1908) dimulai dari pemuda terpelajar. Boedi Oetomo menjadi saksi atas pergerakan kaum muda Indonesia yang merupakan awal dari kebangkitan bangsa. Kedua, perilaku sosial yang dimiliki oleh kaum muda seperti sikap idealis, nasionalis, ideologis, dan demokratis. Sikap semacam ini akan memengaruhi pergerakan kaum muda dalam membangun bangsa.

Layaknya yang terjadi dalam gerakan Reformasi (1998), pergerakan kaum muda, khususnya mahasiswa, melakukan upaya menggulingkan pemerintahan yang otoriter. Pada masa itu, mahasiswa menuntut adanya reformasi dalam pemerintahan. Pergerakan yang dilakukan mahasiswa ketika itu dilatarbelakangi sikap demokratis. Kekuasaan negara harus ditentukan oleh rakyat, bukan penguasa dalam pemerintahan. Kepemimpinan kaum muda harus mulai dikembangkan melalui proses-proses penempaan diri dengan dukungan berbagai pihak.

Yang mana akan memberikan sumbangsih kaum muda untuk terus berkarya dalam membangun bangsa. Gelora akan kepemimpinan kaum muda memang akan menemui babak baru dalam sejarah Indonesia. Pendidikan dan perilaku sosial akan memberikan dampak yang signifikan dalam menentukan arah pergerakan bangsa. Maka, kualifikasi atas kedua hal tersebut perlu diperhatikan untuk menciptakan pemuda bangsa yang berkualitas.

Melalui kedua unsur itu pula diharapkan muncul generasi muda yang berkualitas dan berdaya saing dalam memajukan bangsa dengan mampu menjawab berbagai tantangan global yang akhir-akhir ini semakin dirasakan oleh bangsa ini. Menciptakan fondasi yang kuat bagi generasi muda berarti menciptakan Indonesia yang jaya di masa mendatang.Semoga kepemimpinan kaum muda bisa jaya luar biasa...!!!

*oleh Abiseka Anoraga (Mahasiswa S1 FIA Brawijaya / Ketua DPM FIA 2012)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar